Mencari Tuhan di Ujung Barrel Senapan Nicki Minaj
Saya menekan tombol Uninstall bukan karena benci, tapi karena saya lelah ditembak mati oleh penyanyi pop internasional di medan perang fiktif yang memakan separuh nyawa hardisk saya.
Semuanya bermula ketika saya mencoba melakukan reload pada senjata laras panjang saya. Tapi alih-alih mendengar bunyi klik-klak logam yang dingin, saya justru mendengar karakter saya berteriak kalimat sassy sambil memegang boneka beruang neon.
Di situlah saya sadar kalau perang sudah berubah. Atau mungkin, saya yang sudah terlalu tua untuk pesta kostum ini.
Dulu, kita meninggalkan Call of Duty karena alasan teknis. Entah itu koneksi putus, lag, atau stik yang rusak. Hari ini? Kita pergi karena kelelahan eksistensial. Kita pergi karena "Call of Duty HQ" telah memakan 300GB penyimpanan SSD saya seperti parasit digital yang lapar.
Saya terpaksa menghapus foto-foto pernikahan (bercanda, saya menghapus Red Dead Redemption 2, yang rasanya sama pedihnya) demi sebuah launcher yang antarmukanya lebih rumit daripada panel kendali nuklir Korea Utara.
Labirin Keringat dan Slide Cancel
Masalah utamanya bukan pada tembak-menembak. Masalahnya adalah ketika saya pulang kerja pukul 7 malam, ingin bersantai, tapi algoritma Matchmaking atau SBMM memutuskan bahwa saya harus melawan lima kloningan atlet esports yang mengonsumsi minuman berenergi lewat infus.
Mereka tidak berjalan. Mereka meluncur. Mereka melakukan bunny hop. Mereka melakukan Omnimovement, sebuah istilah mewah di era Black Ops 6 dan Black Ops 7 yang pada dasarnya berarti: "Karaktermu bisa kejang-kejang ke segala arah hukum fisika."
Saya menembak ke kiri, mereka sudah ada di langit-langit. Saya menengok ke kanan, mereka sudah di belakang saya, membisikkan kata-kata kotor, lalu mengeksekusi saya dengan gerakan finisher yang melibatkan kembang api. Saya hanya ingin main tembak-tembakan, bukan audisi sirkus.
Krisis Identitas di Medan Perang
Lalu ada masalah estetika. CoD dulunya adalah tentang pasir, debu, dan kamuflase. Sekarang game ini jadi Fortnite untuk orang dewasa yang menyangkal realita.
Di satu sudut peta, ada Kapten Price yang legendaris dengan wajah penuh arang pertempuran. Di sudut lain? Ada Homelander sedang berjoget, satu tim dengan monster pohon dari Guardians of the Galaxy, dan tentu saja, Nicki Minaj berwarna hot pink.
Rasanya seperti mengalami demam tinggi atau fever dream. Kau sedang tiarap di parit perlindungan, berusaha serius, lalu tiba-tiba sebuah mobil van Scooby-Doo meledak di sebelahmu. Di titik ini, imersi bukan lagi sekadar mati. Imersi sudah dimakamkan, digali lagi, dan dipakaikan baju badut.
Black Ops 7: Nostalgia Plastik
Mari bicara tentang gajah di dalam ruangan, yaitu Black Ops 7.
Dirilis November 2025, game ini dijanjikan sebagai "kepulangan". Kembalinya David Mason dan setting tahun 2035. Harapan itu ada, tipis seperti tisu toilet di terminal bus. Tapi setelah mengunduh (dan menunggu shader pre-loading selama durasi satu episode drakor), rasanya hampa.
Ini cuma Black Ops 6 dengan topi baru. Ini adalah DLC seharga $70 (sekitar Rp1,1 juta, kurs rupiah lagi menangis). Kampanyenya terasa seperti naskah yang ditulis oleh AI yang sedang mabuk nostalgia, dan mode multiplayernya hanyalah siklus penyiksaan yang sama dengan warna palet yang sedikit lebih gelap.
Inovasinya? Kita bisa memantul di dinding alias wall bounce. Wah, revolusioner. Sekarang saya bisa pusing lebih cepat.
Tombol "Uninstall" Adalah Kedamaian
Jadi, kenapa orang-orang pergi?
Bukan karena benci, tapi karena lelah. Lelah harus "berkeringat" setiap kali login. Lelah melihat penyimpanan hardisk dimonopoli. Lelah berharap game ini akan kembali menjadi military shooter yang serius, padahal jelas-jelas ia ingin menjadi toko kosmetik berjalan.
Saya menekan tombol Uninstall. Bar progress bergerak lambat, menghapus ratusan gigabyte data. Dan saat angka itu mencapai 100%, saya merasakan sesuatu yang sudah lama hilang: Hening.
Ruang penyimpanan saya kembali lega. Dan yang lebih penting, saya tidak perlu lagi ditembak mati oleh penyanyi pop internasional di medan perang fiktif.
Selamat tinggal, CoD. Hubungi aku kalau kau sudah berhenti memakai make-up neon.