Membedah Kata Ngai yang Sering Diucapkan Teman Chindo Bangka

Anda bingung saat teman Chindo Anda bilang 'Ngai' dan 'Ngin'? Jangan buka kamus Mandarin standar karena Anda tidak akan menemukannya. Itu adalah dialek Hakka, bahasa ibu bagi jutaan orang dari Bangka hingga Singkawang.

Anda mungkin punya teman Tionghoa-Indonesia (Chindo) yang bicaranya campur aduk. Di tengah kalimat bahasa Indonesia, tiba-tiba muncul kata "Ngai" dan "Ngin".

Anda bingung. Anda pernah belajar Mandarin di sekolah minggu, tapi gurunya mengajarkan "Wo" untuk saya dan "Ni" untuk kamu. Lantas, bahasa planet mana ini?

Jawabannya sederhana. Itu adalah Bahasa Hakka (Khek).


Kamus Singkat Hakka

Secara harfiah, Ngai artinya Saya atau Aku.

Kata ini adalah kata ganti orang pertama tunggal dalam dialek Hakka, salah satu suku Tionghoa terbesar di Indonesia yang banyak tersebar di:

  • Bangka Belitung
  • Kalimantan Barat (Singkawang, Pontianak)
  • Jakarta (terutama area Jembatan Lima dan sekitarnya)
  • Aceh

Pasangannya: Ngin

Biasanya kata "Ngai" tidak berjalan sendirian. Dia punya pasangan abadi yaitu "Ngin" (atau kadang dilafalkan Nyi/Ngi tergantung sub-dialek).

  • Ngai = Saya (Gue)
  • Ngin = Kamu (Lu)

Jadi kalau teman Anda bilang: "Aduh, Ngai pusing banget liat Ngin."
Itu artinya: "Aduh, Gue pusing banget liat Lu."

Kenapa Bukan "Wo" dan "Ni"?

Mandarin (Putonghua) adalah bahasa nasional China modern. Sedangkan Hakka adalah bahasa daerah (dialek). Bayangkan perbedaannya seperti Bahasa Indonesia (Saya/Kamu) dengan Bahasa Jawa (Kulo/Sampeyan) atau Sunda (Abdi/Maneh).

Banyak Chindo di Indonesia lebih fasih bahasa dialek nenek moyang mereka (Hakka/Hokkian) daripada Mandarin standar yang kaku.

Kesimpulan

Jadi "Ngai" bukan bahasa gaul baru, dan bukan kode rahasia geng mafia. Itu hanyalah cara anak keturunan Hakka menunjuk diri mereka sendiri.