Bermain Kartu Domino di Tengah Hujan Napalm

Amerika Serikat mengirim setengah juta pemuda ke hutan tropis karena takut pada sebuah metafora permainan papan. Spoiler: Domino-nya tidak jatuh, tapi justru saling memukul satu sama lain.

Kenapa Paman Sam, yang tinggal nyaman di belahan bumi barat, repot-repot pergi ke Asia Tenggara untuk "bermain tanah" di Vietnam?

Jawabannya adalah satu kata yang menghantui setiap birokrat Washington di tahun 50-an dan 60-an: Ketakutan.

Teori Domino: Halusinasi Kolektif

Presiden Eisenhower mempopulerkan istilah "Teori Domino". Logikanya begini:

"Jika Vietnam jatuh ke tangan Komunis, maka Laos akan jatuh. Lalu Kamboja, Thailand, Malaysia, Indonesia, hingga akhirnya Australia akan menjadi merah semua."

Amerika saat itu sedang paranoid akut. Mereka memandang Komunisme seperti virus zombie. Mereka tidak melihat Vietnam sebagai negara yang ingin merdeka dari penjajah (Prancis), mereka melihat Vietnam sebagai "pion Rusia dan China". Jadi, mereka merasa wajib mengintervensi. Bukan demi rakyat Vietnam, tapi demi ego mereka sendiri agar tidak terlihat lemah di depan Uni Soviet.

Kenapa Teori Itu Gagal Total? (Padahal Vietnam Menang)

Singkat cerita: Amerika kalah. Mereka kabur (secara teknis "mundur taktis") pada tahun 1973, dan Vietnam Selatan runtuh total pada 1975. Vietnam resmi jadi Komunis.

Tapi... kenapa Thailand tidak jadi komunis? Kenapa Indonesia tidak berubah jadi Uni Soviet cabang Khatulistiwa? Kenapa "domino"-nya macet?

Jawabannya adalah Nasionalisme > Ideologi.

Amerika membuat kesalahan fatal dalam menilai musuh. Mereka mengira semua Komunis itu bersahabat dan satu komando (Satu Geng). Padahal realitanya:

  1. Vietnam Benci China: Mereka sudah bermusuhan selama ribuan tahun. Jadi ide bahwa Vietnam akan menjadi boneka China adalah salah besar.
  2. Komunis Saling Gelut: Setelah perang selesai, Vietnam justru menginvasi Kamboja (yang juga komunis di bawah Pol Pot) untuk menghentikan genosida di sana. Lalu China (komunis) menyerang Vietnam karena kesal Vietnam menyerang Kamboja.
    • Jadi bukannya bersatu melawan Kapitalisme, para "domino" ini malah saling cakar-cakaran sendiri.

Ironi Terbesar Abad Ini

Hari ini, jika Anda pergi ke Ho Chi Minh City (dulu Saigon), Anda tidak akan melihat pawai buku merah Marxisme di setiap tikungan.

Anda akan melihat gerai McDonald's, pabrik sepatu Nike, dan kedai Starbucks.

Vietnam memang menang perang militer, tapi pada akhirnya, Kapitalisme menang lewat jalur belakang. Amerika menghabiskan miliaran dolar dan ribuan nyawa untuk menghentikan sesuatu yang pada akhirnya "sembuh" sendiri dengan kekuatan pasar bebas.

Teori Domino ternyata hanyalah dongeng pengantar tidur yang sangat mahal, berdarah, dan tidak lucu.